Living Inside a Crown – THREE

Untitled-18 copy2-2 copy2

Written by : LIGHT

Main Cast :

  • King Jonghyun (SHINee Jonghyun)
  • Queen Lee (OC)
  • Prince Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Prince Lee Kibeom (SHINee Key)
  • Kang Joon (OC)
  • Jo Taesa (OC)
  • Choi Minho (SHINee Minho)
  • Jeong Minhye (OC)
  • Lee Taemin (SHINee Taemin)
  • Lee Jeongshin (CNBlue Jeongshin)
  • Park Boyoung

Genre : Slice of Life, Romance, Fluff, Friendship, Family

Rate : General

Length : chaptered : 3 of ?

Disclaimer : hak milik pada cerita, bukan pada tokoh, bahkan OC nya pun bukan punya saya~ hahaha

Warning : no edit! so, typo di maklumi yaa~

^o^

[PART1][PART2]

==========

Hyeongnim, kenapa Kibeom Hyeong tidak ikut berkumpul disini? Jinki Hyeong? Kibeom Hyeong dari mana sih? Aku tidak pernah melihatnya sama sekali sampai hari ini! Hyeong? Yah, Hyeongnim?” Taemin berhenti sejenak. “Hyeong! Siapa yang membuat kue ini? Bisa kenalkan chef nya padaku?”

Bocah itu tak berhenti sejenak sejak ia melihat Kibeom muncul dihadapannya. Pulang ke rumahnya sendiri, di istana, dimana ia dilahirkan. Meskipun pada akhirnya sebuah cupcake bisa mengalihkan topik pertanyaannya yang membombardir Jinki, namun pertanyaan tentang Kibeom adalah yang paling banyak dilayangkannya pada Jinki. Membuat putra pertama raja itu tidak bisa menjawab satupun pertanyaan Lee Taemin, sepupunya itu. Jinki hanya tersenyum, namun tidak memberikan jawaban apapun. Bahkan Taemin terlihat tidak terlalu peduli jika Jinki menjawabnya atau tidak. Kini ia lebih sibuk menatap beberapa buah cupcake yang disusun diatas loyang perak yang tersaji diatas meja sebagai kudapan.

Lega, adalah perasaan yang tengah menjalari Jinki sekarang. Karena seseorang yang entah bagaimana sangat dirindukannya itu pulang. Lee Kibeom. Adiknya. Tidak seperti hubungan seorang kakak laki-laki dengan adik laki-lakinya yang biasanya diliputi oleh pertengkaran, bagi Jinki, Kibeom adalah sosok yang paling ingin ia lihat dan ia perlakukan sebagai seseorang yang berarti untuknya. Karena sebuah alasan yang hanya dirinya sendiri yang mengerti. Meskipun ia tahu banyak orang menganggapnya agak sedikit berlebihan, menyayangi adik laki-lakinya seperti itu, namun Jinki tidak peduli.

Meskipun Kibeom tetap berada didalam kamarnya setelah ia pulang, bukannya bergabung dengan mereka,  Jinki tetap merasa lega. Akhirnya bocah itu kembali.

Berjarak beberapa meter dari hadapan Jinki yang berdiri bersama Taemin, Taesa tampak terus berusaha mencuri pandang ke arah pangeran yang sama sekali tak mengarahkan pandangannya kepada gadis itu. Taesa melirik kea rah Jinki melewati bahu Boyoung yang berdiri tepat dihadapannya, memunggungi Jinki. Terlihat Jinki yang terus melihat ke arah Taemin yang sejak tadi terus mengajaknya bicara. Taesa bisa melihat raut wajah Jinki jauh lebih bahagia dibandingkan sebelum ia tiba-tiba berlari keluar dari ruangan itu setelah Taemin meneleponnya. Ada sesuatu yang terjadi pada Jinki. Taesa hanya menebak-nebak, namun mungkin tebakannya benar. Sejenak perasaan cemburu menjalari perasaan Taesa. Mengapa dirinya tidak bisa membuat ekspresi Jinki menjadi sebegitu cerahnya? Apakah benar Jinki tidak pernah merasakan perasaan yang sama sepertinya?

“Taesa-ya? Wae geurae? Kau tidak senang mendengar ceritaku? Yah!” pekik Boyoung, membuat Taesa segera mengalihkan perhatiannya pada Boyoung. Ekspresinya yang semula terlihat kesal dengan kening yang sedikit mengkerut itu, kini terlihat lebih tenang. Ia memandang Boyoung dengan kedua matanya yang membulat, seakan menandakan dirinya tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan gadis dihadapannya itu.

Boyoung yang kesal mencoba menelisik apa yang membuat Taesa tidak mendengarkannya. Ia menoleh kebelakang, ke arah dimana Taesa terus mengarahkan pandangannya. Ia mendapati Jinki berdiri disana sambil bercanda dengan Taemin, membuat Boyoung menyeringai lebar, seolah baru mendapatkan jawaban atas misteri yang membuatnya penasaran. “Humhh.. jadi karena itu?” katanya.

“M-mwoya?” Taesa tergagap. Wajahnya mulai merah. Ia menggigiti bibirnya sendiri untuk menahan senyum yang hendak tersungging di bibirnya.

Arraseo~! Arraseo~!” Boyoung tersenyum jahil. Ia senang sekali saat melihat Taesa seperti itu. Semakin memperlihatkan bahwa prasangkanya selama ini benar.

~O~

Kibeom memandangi dirinya sendiri didalam cermin setinggi tubuhnya yang berdiri dingin di hadapannya. Prince Lee Kibeom sudah kembali. Ia sudah tidak bisa melihat dirinya sendiri yang hidup dengan asal seperti biasanya, sekarang. Kini ia sudah tampak seperti penghuni istana. Tidak ada bau matahari seperti apa yang biasanya ia cium dari tubuhnya, atau kaos tanpa merk dengan sablon yang dirinya sendiri tidak pernah peduli seperti apa bentuknya. Kini ia menggantikan pakaian sehari-harinya itu dengan kemeja biru tua berlengan panjang. Celana jeansnya yang warnanya memudar juga digantikan oleh celana dengan bahan yang lebih lemas, memberikan kesan yang lebih formal dan rapi pada penampilannya. Hanya rambutnya yang masih sama. Ia tidak mau merapikannya meskipun hanya menyisirnya sedikit.

“Yang mulia..” terdengar seseorang memanggilnya saat ia masih dengan tatapan tak percaya, memandangi dirinya sendiri yang sudah berubah kembali menjadi seorang pangeran. Bukan gelandangan yang suka menghabiskan waktunya hingga tertidur didalam minimarket. Kibeom menoleh untuk melihat siapa yang baru saja masuk kedalam kamarnya tanpa permisi. “Yang mulia raja memanggil anda!” Kepala Pelayan Kwon yang berdiri didepan pintu kamarnya melanjutkan kalimatnya setelah mengangguk hormat kepadanya. Pemandangan yang tampak asing baginya. Sudah lama ia tidak melihat seseorang memberikan hormat padanya.

“Huh?”

“Beliau ingin bertemu dengan anda, yang mulia!” jawab Kepala Pelayan Kwon, masih berada dalam posisi yang sama.

Kibeom yang semula masih terasa asing dan canggung dengan suasana ini, berdehem sejenak untuk mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Ia tegapkan badannya agar benar-benar tampak seperti seorang pangeran. “A-arasseoyo! Kau boleh kembali!” katanya. Kepala Pelayan Kwon benar-benar kembali keluar dari dalam kamarnya setelah sebelumnya mengangguk sebagai tanda hormat padanya. Bersamaan dengan itu juga, Kibeom kembali lemas. Ia menghembuskan nafas panjang dari mulutnya, hingga pipinya sedikit menggembung.

Really~! This is not my style!”

.

Seorang pelayan wanita menuangkan kopi dari dalam teko kedalam dua cangkir yang tergeletak menengadah di atas meja, dimana di kedua sisinya tampak dua orang pria duduk diatas kursi yang mengapit meja itu. Sang raja, King Jonghyun di salah satu sisi, dan putra bungsunya, Lee Kibeom di sisi lainnya. Setelah usai menuangkan kopi, pelayan wanita itu menunduk hormat, kemudian berjalan mundur untuk meninggalkan dua orang pria itu, untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.

Kibeom tidak tahu apa yang harus ia bicarakan dengan ayahnya. Tiga tahun sudah terlalu lama, sejak terakhir kalinya ia bertemu dengan ayahnya secara langsung. Bukan melihatnya dari televisi. Ia hampir tidak pernah pulang ke rumahnya ini kecuali untuk mengambil beberapa barang yang ia perlukan, kemudian pergi untuk kembali hidup diluar seperti gelandangan. Bahkan saat ia kembali, tak ada satu orangpun yang tahu tentang itu. Sampai hari ini ia memutuskan untuk kembali karena permintaan langsung dari ibunya.

Kini ia sudah berhadapan dengan ayahnya. Sang raja. Entah mengapa bisa duduk berdua bersama ayahnya seperti ini, dan tanpa kawalan, sudah seperti mimpi baginya. Dahulu, untuk berbicara dengan ayahnya saja ia perlu menunduk hormat seperti sekertaris kerajaan. Neneknya tidak akan pernah mengijinkannya untuk berkelakuan seenaknya sendiri walaupun mereka adalah keluarganya. Tapi hari ini dengan leluasa mereka berdua bisa duduk bersama, minum kopi berdua, seperti ayah dan anak normal tanpa status keluarga kerajaan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya sang raja padanya, membuat Kibeom tersentak, tersadar dari lamunannya sendiri. Ia menoleh sedikit ke arah raja untuk melihat wajahnya yang sudah mulai dihiasi keriput-keriput tipis efek usia. Sudah berapa tahun Kibeom tidak pernah pulang ke rumah hingga ia sendiri tidak menyangka ayahnya sudah terlihat jauh lebih tua dari saat terakhir kali mereka bertemu.

“Saya baik.. ayah..” jawab Kibeom, sedikit bergetar saat mengucapkan kata ayah. Ia sendiri tidak mengetahui kenapa rasanya begitu sulit hanya untuk memanggil ayahnya sendiri.

Kibeom mengambil cangkir kopinya, mengisap sedikit, kemudian meletakkannya lagi. Bukan karena ia benar-benar menginginkan kopinya, namun ia hanya ingin menghilangkan kesan gugup meskipun hanya sedikit.

“Karena kau sudah berada disini, kuharap kau tetap tinggal!” ujar sang raja, kemudian menghisap kopi dari cangkirnya sendiri. “Aku akan segera mengumumkan sesuatu kepadamu dan kakakmu! Kuharap kau tidak mengacaukannya! Mengerti?” lanjutnya. Sang raja mengarahkan pandangannya kepada Kibeom. Tatapan yang begitu mengintimidasi pria berusia dua puluh tahun itu. Kalau sudah begitu yang bisa dilakukannya hanya menurutinya. Ia tidak pernah mampu menolak perintah ayahnya kalau sudah seperti ini.

“Y-ye, abeoji!” namun Kibeom masih mencoba menebak-nebak, apa yang ingin dilakukan ayahnya kepadanya dan kakaknya. Mungkin sesuatu yang sudah diperkirakannya sejak lama. Sekali lagi Kibeom kembali menghisap kopinya.

~O~

“Ini ku kembalikan!” Minhye menyerahkan kunci motor Kang Joon dengan asal kepada pemiliknya. Sementara pemiliknya hanya menerimanya dengan santai, sambil mengunyah makan siangnya yang memenuhi mulutnya. “Kau bodoh ya? Aku kan tidak bisa naik motor!” Minhye memekik kesal.

“Aku lupa, maaf! Habis, malam itu aku sedang tergesa-gesa, dan kau terus merajuk padaku meminta diantarkan pulang! Maaf!” jawab Kang Joon setelah terlebih dahulu menelan makanan yang memenuhi mulutnya.

Se telah meletakkan baki berisi makan siang di atas meja yang sama dengan Kang Joon, Minhye kemudian duduk berhadapan dengan gadis yang masih sibuk menghabiskan makan siangnya. “Memangnya kau mau kemana?” tanya Minhye, kemudian mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.

“Buku astronomi dasar ku tertinggal di kampus!” jawab Kang Joon pendek tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.

“Sudah ketemu?” Kang Joon menggeleng, sementara tangannya sibuk menyuapkan makanan kedalam mulutnya. “Lhah? Tapi kenapa kau tenang sekali? Bukannya seharusnya kau panik sampai tidak konsentrasi bekerja..?”

“Ha hi i..” sadar bahwa kalimatnya tidak akan dimengerti oleh Minhye, Kang Joon mendengus, kemudian menelan makanan didalam mulutnya dengan sedikit kesusahan. “Kau ingin aku seperti itu? Tsk! Teman yang baik!” sindir Kang Joon, memancing decakan keras dari Minhye. “Aku mendapat pinjaman dari seseorang! Ah ya, sepertinya orang itu bekerja disini juga! Tapi aku tidak pernah melihatnya! Apa dia penjaga istana ya?” terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri, Kang Joon menjawab pertanyaan Minhye. Namun sepertinya gadis dengan seragam yang sama dengannya itu bisa mendengarnya dengan cukup jelas. Karena setelah mendengar kata ‘Penjaga Istana’ segera membuatnya memusatkan perhatiannya pada cerita Kang Joon.

“Penjaga istana?”

Kang Joon melirik ke arah Minhye, kemudian menyeringai tipis. “Aku tidak sedang membicarakan penjaga istana Choi!”

“Aish!” Minhye hendak memukul Kang Joon dengan sendoknya, namun dirinya sendiri mengurungkan niatnya. Sementara Kang Joon tertawa pelan di hadapannya.

“Aku tidak pernah melihatnya keluar masuk istana, tapi ia juga mahasiswa di South Korea Royal Academy, sebenarnya aku juga jarang melihatnya di kampus sih tapi aku pernah melihatnya beberapa kali.. jadi kupikir dia salah satu anak kaya yang bersekolah disana..”

Minhye berdecak. Ia kesal karena Kang Joon terus menggumam tanpa kejelasan seperti itu, sementara dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dibicarakan olehnya. “Kau bicara apa sih?”

“Kibeom! Apa kau pernah mendengar seorang karyawan istana bernama Kibeom?” tiba-tiba saja Kang Joon berbicara dengan lebih jelas.

“Kibeom?”

Kang Joon mengangguk pelan, kemudian menyuapkan suapan terakhir dari makan siangnya hari ini kedalam mulutnya. Dengan cepat ia mengunyah dan menelannya lagi, kemudian melanjutkan ceritanya pada Minhye. “Dia yang meminjamkan buku astronomi dasar miliknya kepadaku! Lalu tadi pagi ia mengantarku sampai kesini! Sepertinya ia juga bekerja disini!” jawab Kang Joon.

“Aku.. belum pernah mendengarnya.. Kibeom..”

Gadis berambut pendek itu berdiri segera setelah menghabiskan susu kotak jatah makan siangnya. Ia mendahului Minhye kembali ke dapur tanpa mengatakan apapun lagi, sementara temannya itu masih memikirkan seorang karyawan istana bernama Kibeom. “Kibeom? Jang Kibeom? Go Kibeom? Kim Kibeom?” Minhye mengetuk-ngetukkan ujung sumpitnya ke keningnya sendiri. Dan tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia hendak memanggil Kang Joon untuk memberitahunya siapa Kibeom sebenarnya. Ia merasa bodoh melupakan nama salah satu anggota kerajaan yang seharusnya ia ingat. Karena pria itu tidak pernah terlihat di istana, ia sampai lupa bahwa keluarga kerajaan mempunyai dua orang anak laki-laki. Namun Kang Joon sudah tidak terlihat di ruangan itu, sepertinya ia sudah kembali ke dapur, bersiap untuk bekerja lagi.

Minhye kembali duduk di bangkunya, ia masih tak percaya dengan cerita Kang Joon. Mungkin Kang Joon juga lupa dengan putra kedua raja yang hampir tak pernah pulang ke istana itu. “Lee Kibeom Wangjanim? Jinjja??”

~O~

Entah kenapa suasana didalam istana malah membuatnya terjaga. Seharusnya dalam kondisi yang tenang dan nyaman seperti ini, ia bisa langsung tertidur. Biasanya akan sangat sulit menemukan alas yang empuk untuk sekedar merebahkan diri dan memejamkan mata sejenak. Namun hari ini ia bisa dengan mudah menemukan ranjang besar yang empuk dan hangat didalam kamarnya itu. Sepertinya dirinya merindukan bermalam didalam minimarket, menghabiskan satu cup ramen dan kopi kaleng, kemudian tertidur sampai pelayan minimarket shift malam membangunkannya sebelum pulang.

Mungkin ini karena pembicaraan dengan ayahnya tadi siang. Ia terus berpikir apa yang sebenarnya akan dilakukan ayahnya kepadanya dan kakaknya. Sebenarnya hanya ada satu hal yang mungkin akan dilakukan ayahnya, Kibeom tidak bodoh. Ia sangat mengerti itu. Namun ia masih belum yakin, karena jika apa yang ia pikirkan benar.. tidak seharusnya dirinya diikut sertakan kedalamnya. Mengingat banyak sekali kesalahan yang selama ini dilakukannya.

Sedang mencoba menghitung domba untuk membuatnya pergi ke alam mimpi bersama domba-domba itu, ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kibeom kembali membuka matanya kemudian berdecak kesal. Malam-malam begini menganggu tidurnya.. oke, mengganggu usahanya untuk tidur. Mungkin ada seorang pelayan datang untuk mengantarkan sesuatu, pikirnya sejenak kemudian. Ia masih lupa bahwa di istana sering sekali pelayan datang dan pergi seperti itu.

Sambil menahan emosinya, Kibeom beranjak dari tempat tidurnya, menuju ke arah pintu kamarnya. Ia sadar sejenak, mengapa ia tidak berteriak saja menyuruhnya masuk tanpa harus membukakan pintunya? Ia sudah benar-benar lupa berkelakuan seperti seorang pangeran. Tapi sudah kepalang tanggung, dirinya sudah berada didepan pintu sekarang. Lebih baik dibukakan saja.

“Ya? Ada apa?” katanya asal begitu ia membukakan pintunya. Ia menyangka, dirinya akan menemukan pelayan berdiri dihadapannya sambil menunduk hormat kepadanya. Namun sepertinya tebakannya salah. Ia malah menemukan seorang pria yang sebelumnya melintas di pikirannya, berdiri dihadapannya dengan senyum tipis terulas di wajahnya. Dan ia tidak mengerti mengapa perasaannya menjadi sedikit aneh. “O..oh..kau..” Kibeom tergagap.

“Yo!” balas pria yang ada dihadapannya itu.

“Ada apa hyeong kemari? Ini sudah saatnya tidur! Kembali sana ke kamarmu, atau ibu akan memarahimu nanti!” katanya menginstruksikan Jinki, pria yang ada di hadapannya itu untuk pergi.

Kibeom hendak menutup pintu kamarnya itu, namun Jinki segera mencegahnya. Ia menyelipkan kakinya yang bersepatu pada celah pintu yang hendak tertutup, kemudian menariknya agar kembali terbuka. Jinki memang jauh lebih kuat dari Kibeom, Kibeom sendiri juga tahu itu. Makanya ia tidak terlalu menghiraukan untuk melawan kekuatan Jinki dengan berusaha menutup pintu kamarnya. Ia pikir hal itu akan sia-sia.

“Ya! Kau pikir kita masih SD? Terserah padaku aku mau tidur jam berapa!” ujar Jinki, membuat Kibeom tertegun. Benarkah ini Jinki? Pikirnya. Jinki tak pernah mengeluarkan kata-kata seperti terserah atau semacamnya. Ia terlalu taat dengan peraturan untuk mengatakan hal seperti itu.

“Y-ya! J-jinjja..?”

Jinki terkekeh pelan. “Aku hanya menirumu! Kupikir kau pasti akan berkata seperti itu jika aku yang melarangmu datang ke kamarku!” jawabnya. Kibeom masih tertegun didepan pintunya, sementara Jinki masuk dengan asal kedalam kamar adiknya itu. Ia tahu, tidak mungkin kakaknya mengatakan hal seperti itu. Yang seperti itu kan gayanya.

Kibeom berbalik, kembali masuk kedalam kamarnya, kemudian merebahkan dirinya diatas tempat tidurnya. Sekali lagi mencoba peruntungan untuk beristirahat. Meskipun sedang ada tamu didalam kamarnya, ia tidak peduli. Salah sendiri Jinki datang disaat dirinya hendak tidur. Lagipula ia tidak ingin terlalu menghiraukan kakaknya.

Sementara itu Jinki terlihat serius memeriksa satu persatu buku yang tersusun rapi didalam rak buku besar yang berisi entah berapa ribu buku, dan percaya tidak percaya Kibeom sudah membaca semuanya. Kibeom bukanlah tipe yang suka mengkoleksi buku hanya sebagai pajangan saja. Setiap buku yang ada didalam kamarnya itu pasti sudah pernah ia baca, dan ia mengerti satu persatu isi buku yang ia baca.

“Kau sudah selesai mendata buku-buku ku? Kau boleh keluar kalau begitu, Lee ahjeossi!” ujar Kibeom asal dari arah ranjangnya, dengan nada malas. Jinki hanya tersenyum tipis mendengarnya.

“Aku hanya penasaran buku apa saja yang sudah kau baca!” Jinki mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu buku yang ada di baris ketiga dari bawah, rak buku yang ada di hadapannya itu. Sepertinya sebuah ensiklopedia. “Boleh aku pinjam yang ini?” katanya sambil membalik satu persatu halaman buku tersebut.

“5000 won untuk satu hari!” jawab Kibeom, masih belum bergerak dari posisinya.

“Mahal sekali? Aku belum bekerja! Beri aku diskon!”

Kibeom terdiam sejenak. “Tidak bisa! Karena kau calon putra mahkota, aku akan menaikkan harganya! 6000 won, atau kembalikan buku itu ke tempatnya!”

Ya~! Lee Kibeom! Sudah kubilang jangan pernah menyinggung tentang hal itu!”

Wae?” Kibeom bangun, kemudian duduk di tepi ranjangnya dengan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Ia merasa terganggu karena kakaknya datang malam-malam begini kedalam kamarnya. Padahal ia sudah cukup terganggu dengan pikirannya sendiri, sebelumnya.

Jinki tidak mengeluarkan satu kalimatpun untuk menjawab pertanyaan singkat yang Kibeom layangkan kepadanya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia ingin marah pada Kibeom, namun tidak memiliki cukup alasan untuk berteriak pada adik laki-lakinya itu. Namun ia benar-benar merasa kesal karena suatu alasan. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaannya ini. Ia tersinggung.

“Keluar sana! Aku mau tidur! Don’t you know, i feel so tired? Just go!” ujarnya, kemudian membanting dirinya sendiri diatas ranjang tanpa peduli dengan kakak laki-lakinya yang masih berdiri didalam kamarnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan pria itu hingga dirinya mendengar suara pintunya tertutup dengan debam yang cukup keras. Jinki sudah keluar, pikirnya.

Kibeom menghela nafas, kemudian membuka matanya untuk melihat ke arah pintu yang tertutup. Kakaknya sudah benar-benar berada diluar. Ia pasti kesal karena perkataannya, Kibeom tahu itu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya selalu ingin membuat kakaknya kesal jika mereka bertemu. Namun ia sendiri juga tidak bisa mencegahnya. Sekali lagi ia menghela nafas, kemudian kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur.

.

Jinki masih berdiri didepan kamar Kibeom, meredam amarahnya sendiri. Dirinya sendiri tidak mengerti kenapa ia selalu merasa tersinggung jika Kibeom membahas tentang “putra mahkota” yang kemungkinan besar akan disandang olehnya itu. Semua orang tahu, dan dirinya pun mau tidak mau mengiyakan jika nama putra mahkota itu suatu saat akan disandangnya. Namun entah mengapa hal itu tetap saja membuatnya kesal.

Jinki menarik nafas panjang dan mengeluarkannya melalui mulut. Kemudian berjalan meninggalkan kamar Kibeom kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

~O~

Sekertaris kerajaan berdiri di hadapan meja kerja sang raja, sementara raja yang duduk di meja kerjanya, memeriksa dokumen-dokumen didalam map berwarna hitam yang baru saja diserahkan sekertaris kerajaan kepadanya. Setelah cukup memeriksa, akhirnya sang raja mengangkat wajahnya, menutup dokumennya, kemudian menyerahkannya kepada sekertaris kerajaan.

“Baiklah, segera kita lakukan! Tolong persiapkan semuanya! Kita akan segera mengumumkannya hari ini!” titah sang raja pada sekertaris kerajaan.

Sekertaris kerajaan segera menerima map berisi dokumen itu, menunduk hormat kepada sang raja. “Baiklah yang mulia. Segera saja laksanakan!”

~O~

Kibeom tidak benar-benar tidur semalam. Yang ia ingat ia hanya memejamkan mata, namun ia masih bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya. Suara jarum jam yang berputar setiap detiknya, suara tetesan air dari kran yang yang tidak dapat tertutup sempurna, bahkan sudara deru AC yang sebenarnya hampir tidak terdengar, ia bisa mendengarnya dengan jelas. Dan masih mengingatnya sampai sekarang.

Ia memperhatikan wajahnya sendiri setelah mencucinya, lingkar hitam muncul cukup jelas dibawah matanya. Ia berdecak, kemudian memegang-megang lingkar hitam yang tidak akan mungkin bisa hilang begitu saja dari sana. “Mengurangi ketampananku 20%!” gumamnya pada dirinya sendiri, kemudian menegakan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar mandi.

“Yang mulia, selamat pagi!”

“AAK!! KAPJAGI!!” Kibeom terlonjak begitu tiba-tiba menemukan seseorang berada didalam kamarnya, menyapanya begitu saja. Padahal sebelumnya ia tidak merasakan ada tanda-tanda kehidupan di kamarnya. Tentu saja, selain dirinya sendiri. “Ahh.. Ehem.. kepala pelayan! Kau mengagetkanku!” ujarnya sesaat kemudian setelah membenarkan posisinya, gestur yang dianggapnya seperti seorang pangeran.

“Maafkan saya, Yang Mulia!” kepala pelayan Kwon mengangguk hormat sekali lagi, sementara Kibeom masih sibuk meredakan debaran jantungnya akibat terkejut.

“O-oh!” jawabnya. “Ada apa pagi-pagi kemari?”

“Yang Mulia Raja memanggil anda tuan! Beliau ingin anda datang ke ruangannya sekarang!” jelas kepala pelayan Kwon kepada Kibeom.

Sekarang? Dengan perut lapar? Pikirnya.

Kibeom melegakan tenggorokannya dengan berdehem. “Baiklah, aku akan segera bersiap! K-kau boleh kembali!”

Kepala pelayan Kwon mengangguk pelan, kemudian bergegas keluar dari dalam kamar Kibeom. Pria itu menghembuskan nafas panjang begitu kepala pelayan meninggalkan kamarnya. Ia memandangi pintu keluar kamarnya, hingga ia ingat bahwa dirinya harus cepat-cepat bersiap, sebelum ayahnya akan marah jika ia datang terlambat.

.

Tidak hanya dirinya yang berada didalam ruangan besar itu, kakaknya juga. Kini keduanya duduk diatas sofa berhadapan dengan ayahnya, hanya terhalang sebuah meja pendek dan panjang di antara mereka. Jinki duduk dengan tenang di sampingnya, sementara dirinya tak bisa berhenti menahan perutnya yang sudah kelaparan. Seharusnya paling tidak ia mengisinya dengan roti walaupun hanya sepotong.

Ia melirik ke arah Jinki yang duduk di sampingnya, kemudian menyenggolnya sedikit. Jinki menoleh pelan padanya, menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda bertanya pada adik laki-lakinya itu. “Hyeong, kau punya makanan?”

“Kita mulai saja!” sebelum Jinki sempat menjawab pertanyaan Kibeom, sang raja mulai membuka suara. Jinki segera mengalihkan perhatiannya, sementara dengan berat hati Kibeom harus tetap menahan rasa lapar diperutnya.

“Akhirnya aku berhasil mengumpulkan kalian berdua, jadi sebelum salah satu dari kalian tidak bisa ditemui lagi, aku harus mengumumkan hal ini kepada kalian berdua!” ujar sang raja kepada kedua anaknya yang duduk tegak di hadapannya. Ia memandang kedua pangeran itu bergantian, kemudian mulai angkat bicara lagi. “Hal ini bukanlah hal baru bagi kalian, aku sudah beberapa kali mengatakannya, bahwa aku akan menyeleksi dengan adil, siapa yang akan menjadi penerus tahta kerajaan ini, setelah aku!”

BINGO!

Kibeom tahu ayahnya akan membicarakan tentang ini. Tentu saja, setelah kemarin mereka melakukan pembicaraan kecil yang membuatnya menebak-nebak. Dan ternyata tebakannya adalah benar. Soal penerus tahta.

“Aku tidak pernah mengatakan putra pertamaku akan menjadi putra mahkota, atau mengatakan bahwa tidak ada kemungkinan putra bungsu akan menjadi putra mahkota. Jadi aku akan menyeleksi kalian dengan adil!” titah sang raja pada kedua putranya.

Kibeom tahu ayahnya selalu mengatakan hal ini. Tapi ia juga selalu mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik menjadi putra mahkota. Ia sudah pernah membicarakan ini, namun sepertinya ayahnya tidak peduli dengan pendapat anak bungsunya itu. Buktinya, seleksi ini tetap diadakan tanpa mendengarkan pendapatnya.

“Kita akan mulai dari sekarang! Sekertaris kerajaan sudah membuat kriteria seleksi untuk kalian berdua, jadi kuharap, kalian dapat menaatinya dengan baik..”

“Yang Mulia!” dengan berani Kibeom memotong ucapan sang raja. Ayahnya itu menoleh kepadanya, begitu juga dengan Jinki dan sekertaris kerajaan yang berdiri sedikit di belakang ayahnya.

“Kau berani memotong pembicaraanku, Lee Kibeom?”

“Maafkan saya Yang Mulia! Tapi saya tidak pernah tertarik menjadi putra mahkota! Saya tidak akan mengikuti seleksi ini! Saya mengundurkan diri!”

~O~

“Seleksi putra mahkota?” tanya Kang Joon pada Minhye saat keduanya telah menyelesaikan masakan untuk sarapan keluarga kerajaan. Minhye mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Minhye. “Bukannya sudah jelas putra mahkotanya adalah Lee Jinki? Putra pertama raja?”

Minhye menggelengkan kepalanya sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajahnya. “Aku dengar dari beberapa pelayan, raja akan menentukannya dengan seleksi secara adil kepada kedua pangeran!” jawab Minhye, nampak yakin dengan informasi yang baru saja didapatnya saat ia mengantarkan makanan keluar dari dapur.

“Oh~” namun reaksi yang diberikan Kang Joon sepertinya tidak cukup memuaskannya. Hanya gumaman kecil, memperlihatkan bahwa gadis itu tidak tertarik.

“YAH! Kau ini! Responmu menyebalkan sekali!” Minhye mengomel, namun lagi-lagi hal itu tidak diindahkan oleh Kang Joon yang segera berlalu untuk mengecek suplay sayuran yang datang ke istana tadi pagi, setelah ia mendengar kepala dapur berteriak memanggil namanya.

Minhye yang masih belum menyelesaikan ceritanya, mengikuti Kang Joon dan kembali menceritakan informasi yang baru ia dapatkan. “Dan aku dengar, kerajaan akan menyeleksi para pelayan istana! Mengambil satu orang untuk menjadi asisten kedua pangeran!” Minhye menengadahkan kepalanya, memandang ke langit-langit dapur seakan membayangkan sesuatu yang menyenangkan. “Tidakkah kau bisa membayangkan bertapa menyenangkannya bisa berada sangat dekat dengan kedua pangeran yang sangat tampan itu?”

Ahniyo!” jawaban cepat keluar dari bibir Kang Joon, membuat Minhye segera bangun dari bayangannya, kemudian memukul kepala Kang Joon dengan keras.

YAH! Tidak bisakah kau menghargaiku sedikit saja?” Minhye mengomel kesal.

“Memangnya kenapa? Lagi pula kau akan lebih senang jika menjadi asisten penjaga istana Choi, daripada pangeran!”

Minhye berdecak. Jika ia tidak ingat dirinya masih membutuhkan pekerjaan disini, ia sudah membunuh gadis itu sekarang juga. Sementara itu Kang Joon sibuk dengan pekerjaannya bersama beberapa juru masak lain, sepertinya ia tidak begitu mempedulikan Minhye. Hingga gadis itu kembali mengajaknya bicara, setelah ia mengingat hal penting yang ingin dibicarakannya.

“Ah ya! Aku ingin mengatakan ini padamu! Sepertinya kau memiliki keberuntungan yang besar!” ujar Minhye kepadanya.

Mwonde?”

Gadis berambut sebahu yang diikat seperti cempol di belakang kepalanya itu tersenyum tipis. “Aku tahu siapa orang yang menolongmu itu!” Mendengar ucapan Minhye, Kang Joon segera menoleh kepada gadis itu dengan wajah penasaran. “Lee Kibeom wangjanim! Putra bungsu Lee Jonghyun Wang!”

Kang Joon terdiam sejenak. “M-mwoya?? Jinjjayo??”

Oh! Jinjjayo!”

Sesaat, Kang Joon tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia telah kurang ajar kepada seorang pangeran, kemarin. Tidak. Berulang kali.

~O~

Suasana masih hening setelah Kibeom memberitahukan bahwa dirinya tidak bersedia mengikuti seleksi ini. Jinki memandang kearah adiknya dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan keputusan Kibeom. Ayahnya tentu saja sama tidak setuju dengan keputusan putra bungsunya itu.  Dan sepertinya penolakan akan segera didapatkan olehnya. Sang raja tidak pernah menarik apa yang telah di titahkannya.

“Aku tidak pernah memberikan kuasa kepada siapapun untuk mundur dari apa yang telah aku putuskan! Kau harus tetap mengikutinya Lee Kibeom! Apapun alasannya!” ujar sang raja, tegas. Kibeom hampir saja berdecak kesal, jika ia tidak mengingat ia harus mengormati ayahnya sebagai raja sekarang. “Keputusan ini sudah bulat! Aku tidak pernah mengatakan akan meminta pendapat kalian, jadi kalian berdua harus mengikutinya seperti apa yang aku putuskan!”

Keadaan menjadi sedikit tegang. Emosi sang raja yang sedikit naik dan perasaan kesal Kibeom yang ditahannya, memunculkan sedikit hawa panas didalam ruangan tersebut.

“Aku juga sedang mengadakan seleksi untuk mendapatkan asisten pribadi untuk kalian! Ia yang akan membuat jadwal kegiatan yang akan kalian lakukan setiap hari, dan mengawasi apakah kalian melakukannya dengan baik atau tidak! Ia akan melaporkan hasilnya kepada sekertaris negara, jadi aku akan mengetahui apa yang kalian lakukan setiap hari! Mengerti?”

“Ya, Yang Mulia!” hanya Jinki yang menjawab. Sepertinya Kibeom masih belum mau menerima keputusan sang raja. Namun ayahnya itu tidak peduli, karena ia tahu Kibeom tidak akan bisa benar-benar melawannya jika ayahnya sudah mengharuskan sesuatu untuk dilakukannya. Meskipun hal itu menyiksanya.

~O~

Kibeom keluar dari ruang kerja raja, diikuti Jinki yang berjalan mengekor padanya. Tiba-tiba ia berhenti, kemudian berbalik. Berdiri berhadapan dengan kakaknya yang berhenti tiba-tiba karena adiknya.

Wae?” tanya Jinki sedikit keras karena tersentak.

“Aku.. Ini.. Ah! Tidak! Aku lapar!” katanya, kemudian berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Jinki yang masih berdiri diposisi yang sama. Jinki tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh adiknya. Penolakan yang selama ini selalu ia katakan pada ayah, ibu dan dirinya. Bahwa ia tidak ingin menjadi seorang putra mahkota.

Jinki mendengus, kemudian kembali meneruskan langkahnya menuju ke ruang makan. Mengikuti Kibeom yang sepertinya sudah berada disana sekarang.

~O~

Terdengar suara pematik api terbuka, apinya tersulut, kemudian membakar ujung batang rokok putih yang sudah terpasang dibibir penghisapnya. Seorang pria dengan rambut tebal yang sudah mulai memutih, berdiri di samping jendela, memandang keluar ruangannya yang berada di lantai atas rumahnya. Dari rumahnya yang berada di bukit itu, ia bisa melihat sebagian kota di bawahnya. Pemandangan yang menakjubkan.

Sesekali ia menyeringai lebar. Sepertinya ia sedang mendengarkan sesuatu dari earphone wireless yang terpasang di telinganya. Infomasi dari seseorang yang berada jauh dari posisinya.

“Keurae? Jadi pionnya siap untuk dijalankan?” sekali lagi ia menghisap rokoknya, kemudian menghembuskan asap putihnya ke udara. “Oh! Baiklah, segera informasikan kepadaku!” tambahnya, kemudian informannya di sebrang memutusan hubungan telepon mereka. Pria itu menyeringai tipis, kemudian kembali menghisap rokoknya.

“Akhirnya.. putra mahkota..”

-To be Continue-

Author Note :

Apakah aku terlalu memaksakan diri??

AHH~ aku ngerasa episode ini agak fail~! /blame my mood/

Tapi tetep.. comments are loved yaa :) arigato~!!

-LIGHT-

10 thoughts on “Living Inside a Crown – THREE

  1. Hehehe masih bagus2 aja kok, tante~ tp emang sih di awal ada bbrp kalimat yg mesti aku ulang biar ngerti, ntah krn susanannya atau karena aku baca sambil ngajarin adek bahasa indonesia hehehe :p
    Tp kalo dari alur sih masih bagus2 aja, masih seru aja. Walaupun lagi2 penjaga istana choi minho cm dimention doang…tp bagus kok. Aku sih suka…
    Kali ini aku ga bisa nebak deh bapak rambut putih di akhir itu hehehe.
    Tp konfliknya udah mulai naik, udah makin seru kok
    Lucu deh lht Taesa jeles gt, mana jelesnya sama Kibeom hehehe, eh tp dy tahu ga sih kalo lee wonja bahagianya gara2 kibeom?
    Good work, tante. Walaupun mood mu lagi ga gt bagus, but still a good work
    Aku masih akan ttp setia ngikutin cerita ini…
    Fighting! ^^

    • benarkah?? ini bener2 dibikin dalam mood nulis yang jelek banget sebenernya~ u_u hasil beberapa kali bongkar pasang , sampe akhirnya jadi yang ini.. sampe mataku cape liatin layar isi tulisn mulu~ hahahaha
      tp makasih banyak kalo hasilnya masih dinilai lumayan~ :D

      sebenernya taesa antara gatau tapi gamau tau, tapi mungkin dia juga udah nebak.. seperti itulah~ orang jeles tapi gamau kepo :p

      btw makasih banyak lagi yaa~ ^o^
      karna mino masih blm bisa aku masukin, jadi baru ak mensyen aja.. tp ntar pasti ada kok~ tenang aja.. hehehe :p

  2. Iya ini ga failed kok nan.

    Mungkin di awal2 agak bosen ya, cuman daebaknya itu di bagian akhir kamu sisipin yang oke banget bikin orang penasaran. Makanya kesannya part ini tetep keren nan ^^

    Kalo story tuh pasti akan ada bagian ngeboseninnya, ga mungkin sempurna semua, namanya juga manusia, hehe ^^V

    Itu arin marah ya choi minho cuma dimention doang, lha daripada no mention tapi nyindiri hahaha *apa sih absurd*

    Dan di part ini leih banyaaak fokus ke kibeom yah. Aku pikir kamu bakalan ngasih satu pemeran utama doang loh di cerita ini, tapi ternyata nggak. Aku suka nan, kesannya malah jadi kayak drama gitu yan ga fokus ke masalah si pemeran utama aja :D

    Aku pengen belajar banyak deh buat cara nulis kayak gitu, kamu sering2 update dong nan, biar aku bisa belajar *kan absurd lagi*

    Pokoknya chowa~~ ^o^

  3. ahirnya kibum kembali ke asalnya(?) tpi mmg kliatan bgt klo dy ga nyaman sama hal2 berbau kerajaan..mgk mmg hidupny lbh cocok kaya gelandangan di luar /didepak key/
    dan heii, akhirnya kang joon tau juga identitas si peminjam..kekeke :D
    penasaran eh siapa yg bakal kepilih jdi asisten para pangeran tampan itu /ikutan ngacung/ dan siapa lagi itu yg ngomong di ending? penasaran banget deh jadinya..
    dtunggu next apdetny lagi y ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s